"Buku-buku rohani keagamaan memang telah memberi pencerahan," Tutur Ikang Fawzi (45), artis yang juga menjadi CEO di sebuah perusahaan properti. Setelah membaca beberapa buku karya kiai kondang, AA Gym, Ikang mengakui mulai merasa ada perubahan sikap dalam dirinya. Diakuinya, sikap percaya diri yang selama ini cenderung berlebihan mulai berkurang.

Meskipun demikian, selain menyukai buku-buku musik, suami dari artis cantik dan anggota DPR, Marissa Haque, ini tetap doyan dengan buku-buku bisnis. Mulai dari kiat-kiat bisnis, smart business hingga buku-buku manajerial yang menunjang pekerjaannya. Tak mengherankan jika Robert Kiyosaki menjadi salah satu sumber inspirasinya dalam menggali ide bisnis. Rich Dead Poor Dead adalah salah satu buku yang menurut dia banyak memadukan kebenaran dengan apa yang dilakukan selama ini. "Saya jadi tahu, ternyata McDonald’s besar bukan karena bisnis hamburgernya, tapi usaha propertinya yang mampu mendukung dalam menempatkan outlet-outlet McD yang strategis.Buah yang dipetik selama ini, selain karena usaha yang benar, rupanya juga tak lepas dari kebiasaannya meluangkan waktu untuk membaca apa saja selama dua jam sehari.
Menurut laki-laki yang pernah tinggal di Belgia dan Jepang ini, informasi memang penting. Dan, informasi itu pun tidak mesti di dapat dari buku-buku. Karena apa pun yang sifatnya informatif, seperti surat kabar yang dibacanya setiap hari juga memberi nilai pengetahuan.
Tidak mengherankan jika berbagai jenis buku tersusun di ruang perpustakaannya yang cukup luas. Selain koleksi buku-buku yang membuat para penikmat buku pasti ingin mencicipi, komputer yang disediakan di perpustakaan itu juga difungsikan sebagai ruang kerja sekaligus tempat belajar. Dengan demikian, semua anggota keluarga tak terkecuali anak-anak juga bisa menggunakannya. Selain itu, rak buku yang disediakan di ruang keluarga juga menunjukkan Ikang Fawzi-Marissa Haque sebagai salah satu keluarga yang menganut buku boleh berserakan di mana-mana.
Sayangnya, kebiasaan Ikang untuk membaca dua jam sehari masih kalah jauh dibandingkan istri dan anak-anaknya. "Saya ini termasuk paling tidak rajin membaca buku," akunya. Sebagai anak mantan diplomat, semasa kecil Ikang mesti mengikuti orangtuanya berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Risiko menemui nilai dan budaya baru pun dirasakannya. Meskipun ia sempat kesengsem dengan Asterix-Obelix dan Tintin, kecintaan terhadap komik Bharatayuda-nya RA Kosasih tidak luntur. Bahkan komik-komik Jepang tidak diliriknya.
Sumber : Kompas , 23 April 2005
http://mediarent.blogspot.com/2006/10/ikang-fauzi-dan-buku.html